Jumat, 09 Juni 2017

Laporan Penelitian Biologi Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulisnya yang berjudul “Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau” yang disusun guna memenuhi tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran Biologi. Yang kedua kalinya shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada beliau junjunag kita nabi besar Muhammad SAW, yang mana dengan adanya beliau kita terbebas dari zaman yang gelap gulita menuju zaman yang terang benderang yaitu agama islam.
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan. Dalam penyusunan karya tulis percobaan ini, kami menyadari pengetahuan dan pengalaman kami masih sangat terbatas. Oleh karena itu, kritik dan saran untuk penyempurnaan karya tulis ini sangat kami harapkan.



Ketapang, 16 September 2016


              Penulis










DAFTAR ISI
·         HALAMAN JUDUL...............................................................................................
·         KATA PENGANTAR…………………………………………………………………..
·         DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….
·         BAB I. PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang……………………………………………………………….…..
B.  Rumusan Masalah……………………………………………………………....
C. Tujuan Penelitian……………………………………………………………......
D. Manfaat Penelitian.......................................................................................
·         BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A.  Tanaman Kacang Hijau………………………………………………………....
B.  Teori…………………………………………………………………………........
C. Media Tanam……………………………………………………………............
·         BAB III. METODE PENELITIAN
A.  Rancangan Penelitian………………………………………………………......
B.  Lokasi Penelitian..........................................................................................
C. Populasi dan Sampel...................................................................................
D. Variabel Penelitihan……………………………………………………….........
E.  Alat dan Bahan………………………………………………………………......
F.  Cara Kerja……………………………………………………………………......
G. Definisi Operasional.....................................................................................
H. Hasil Pengamatan.......................................................................................
I.    Keterbatasan Penelitian...............................................................................
·         DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
·         Lampiran-lampiran...............................................................................................











BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Pertumbuhan adalah proses fisiologis yang ditandai dengan bertambahnya jumlah sel dan bertambahnya volume sel yang bersifat irreversible (tidak dapat mengecil kembali). Sedangkan, perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan yang tidak dapat diukur. Pertumbuhan dalam suatu perkecambahan biji dapat langsung diukur apabila tunasnya sudah keluar dan tumbuh. Sama halnya dengan pertumbuhan, perkembangan juga dapat dilihat dari tunas/awal, hanya saja tidak diukur melainkan melihat apa saja struktur tubuh kecambah yang mulai ada dari awal/tunas. Seperti pada awalnya, berkembang batang, akar, dan sebagainya. Pada tumbuhan ber sel 1 terjadi penambahan besar sel, sedangkan pada tumbuhan multiselluler terjadi pembesaran sel maupun penambahan ukuran sel. Pada proses perkecambahan, ada 2 tipe perkecambahan; Epigeal (Perkecambahan dimana kotiledon berada di atas tanah) dan Hipogeal (Kotiledon tetap berada di dalam tanah). Perkembangan adalah proses pada tubuh untuk mencapai kedewasaan atau maturitas. Matuaritas tidak dapat diukur secara kuantitatif namun bisa dilihat dari ciri-cirinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan ada 2, yaitu Faktor Eksternal dan Faktor internal. Faktor Eksternal adalah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari luar, meliputi: nutrisi, suhu, cahaya, air, kelembaban, oksigen, dll. Faktor Internal adalah faktor dari dalam, meliputi: gen dan hormon.
Media tanam merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang didalamnya. Contohnya seperti tanah, air, kapas, kompos, dan sejenis lainnya. Saat ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan, tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Didalam kegiatan penelitian, disini kita memakai media tanah bakar, tanah biasa, dan tanah pupuk kandang untuk mengetahui pertumbuhan yang terjadi pada tanaman. Sedangkan, media tanam yang menggunakan air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan hidroponik.
Dalam hal ini, dapat terlihat bahwa kegunaan antara berbagai media tanam itu berbeda-beda. Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan suatu biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda. Hal yang demikian itu menjadi latar belakang penelitian ini dilakukan pada biji kacang hijau sehingga dapat dimengerti apa pengaruh media tanam terhadap perkecambahan biji tersebut.

B.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka timbul masalah sebagai berikut :
1.  Apakah jenis tanah yang dijadikan sebagai media tanam dapat berpengaruh pada pertumbuhan biji kacang hijau ?
2.  Bagaimanakah perbedaan pertumbuhan kacang hijau yang menggunakan berbagai jenis tanah sebagai media tanam yaitu tanah biasa, tanah bakar, dan tanah pupuk ? 
3.  Faktor apa sajakah yang mempengaruhi pertumbuhan kacang hijau yang di tanam di 3 jenis tanah sebagai media tanam ?


C.     TUJUAN
   Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu sebagai berikut :
·         mengetahui pengaruh bermacam-macam media tanam terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau.
·         mengatahui pada medium apakah tanaman kacang hijau dapat tumbuh dengan maksimal dan tidak dapat tumbuh dengan maksimal.


D.     MANFAAT
Manfaat yang dapat kita peroleh dari penelitian yang dilakukan yaitu sebagai berikut :
·         Bagi siswa, dengan adanya praktikum ini siswa mendapatkan pengetahuan tentang pengaruh jenis tanah dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman kacang hijau.
·         Bagi guru, melalui peaktikum ini guru dapat mengetahui tingkat  pemahaman siswa yang akan melakukan uji praktikum dalam hal ini mengenai pertumbuhan biji kacang hijau.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     TANAMAN KACANG HIJAU

1.   Klasifikasi Ilmiah
·         Kingdom
Plantae (Tumbuhan)
·         Subkingdom
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
·         Super Divisi
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
·         Divisi
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
·         Kelas
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
·         Sub Kelas
Rosidae
·         Ordo
·         Famili
Fabaceae (suku polong-polongan)
·         Genus
Phaseolus
·         Spesies
Phaseolus radiatus L.

Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang temasuk suku polong-polongan (fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan protein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai sumber tanaman pangan legume, setelah hijau dan kacang tanah. Kacang hijau juga sangat mudah berkecambah, kecambah kacang hijau biasa kita kenal dengan tauge. Kacang hijau dalam bentuk kecambah mengandung enzim-enzim aktif salah satunya amilase yang membantu dalam metabolisme karbohidrat. Selain rasanya yang gurih dan lezat, kacang hijau dan kecambahnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
B.           TEORI
1.  Perkecambahan
Menurut para pendapat tokoh, perkecambahan biji merupakan bentuk awal embrio yang berkembang menjadi sesuatu yang baru yaitu tanaman anakan yang sempurna menurut Baker, 1950. Sedangkan, menurut Kramer dan Kozlowski, 1979, perkecambahan biji adalah proses tumbuhnya embrio atau keluarnya redicle dan plumulae dari kulit biji.
Dalam perkecambahan, biji selalu mengalami pertumbuhan dan mengalami perkembangan. Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume karena adanya penambahan substansi (bahan dasar) yang bersifat irreversibel (tidak dapat kembali). Sedangkan, perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan yang tidak dapat diukur. Pertumbuhan dalam suatu perkecambahan biji dapat langsung diukur apabila tunasnya sudah keluar dan tumbuh. Sama halnya dengan pertumbuhan, perkembangan juga dapat dilihat dari tunas/awal, hanya saja tidak diukur melainkan melihat apa saja struktur tubuh kecambah yang mulai ada dari awal/tunas. Seperti pada awalnya, berkembang batang, akar, dan sebagainya. Pertumbuhan dan perkembangan suatu kecambah biji akan selalu berbeda-beda tergantung media tanam yang dipakai dan unsur-unsur yang terdapat dalam media tanam tersebut.
Media tanam merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang didalamnya. Contohnya seperti tanah, sekam, kapas, dan sejenis lainnya. Saat ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan, tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Tapi, dalam kegiatan penelitian, siswa-siswi selalu memakai kapas untuk perkecambahan biji mereka. Sedangkan, media tanam yang menggunakan air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan hidroponik.
Dalam hal ini, dapat terlihat bahwa kegunaan antara berbagai media tanam itu berbeda-beda. Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan suatu biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda. Hal yang demikian itu menjadi latar belakang penelitian ini dilakukan pada biji jagung, kacang tanah dan kacang merah, sehingga dapat dimengerti apa pengaruh media tanam terhadap perkecambahan biji tersebut.
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi (berarti “minum”). Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar) dan biji melunak. Proses ini murni fisik.
Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam absisat menurun kadarnya, sementara giberelin meningkat. Berdasarkan kajian ekspresi gen pada tumbuhan model Arabidopsis thaliana diketahui bahwa pada perkecambahan lokus-lokus yang mengatur pemasakan embrio, sepertiabscisic acid insensitive 3 ,fusca 3 dan leafy cotyledon 1 menurun perannya dan sebaliknya lokus-lokus yang mendorong perkecambahan meningkat perannya (upregulated), seperti gibberelic acid 1 gai, era1, pkl, spy, dan sly. Diketahui pula bahwa dalam proses perkecambahan yang normal sekelompok faktor transkripsi yang mengatur auksin (disebut Auxin Response Factors, ARFs) diredam oleh miRNA.
Perubahan pengendalian ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan mitosis, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah.
2.    Tipe Perkecambahan
a.       Hipogeal
Pada tipe ini memperlihatkan terjadinya pertumbuhan memanjang dari epikotil sehingga menyebabkan plumula keluar dan menembus pada kulit bijinya yang nantinya akan muncul di atas tanah, sedangkan kotiledonnya masih tetap berada di dalam tanah. Contoh perkecambahan ini terjadi pada kacang kapri.
b.       Epigeal
Pada tipe in hipokotil tumbuh memanjang yang mengakibatkan kotiledon dan plumula sampai keluar ke permukaan tanah, sehingga kotiledon terdapat di atas tanah.
3.    Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan
a.      Faktor Dalam
Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain :
·      Tingkat kemasakan benih
      Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna (Sutopo, 2002). Pada umumnya sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut juga telah mencapai masak fisiologos atau masak fungsional dan pada saat itu benih mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum atau dengan kata lain benih mempunyai mutu tertinggi (Kamil, 1979).
·      Ukuran benih
     Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan (Sutopo, 2002). Berat benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat dipanen (Blackman, dalam Sutopo, 2002).

·      Dormansi
     Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga dapat dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai (Lambers 1992, Schmidt 2002).
·      Penghambat perkecambahan
Menurut Kuswanto (1996), penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju respirasi.
b.      Faktor Luar
Faktor luar utama yang mempengaruhi perkecambahan diantaranya :

·      Air
Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo, 2002). Perkembangan benih tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80 sampai 90 persen (Darjadi,1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55 persen (Kamil, 1979).
Menurut Kamil (1979), kira-kira 70 persen berat protoplasma sel hidup terdiri dari air dan fungsi air antara lain:
a.      Untuk melembabkan kulit biji sehingga menjadi pecah atau robek agar terjadi pengembangan embrio dan endosperm.
b.      Untuk memberikan fasilitas masuknya oksigen kedalam biji.
c.      Untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan berbagai fungsinya.
d.      Sebagai alat transport larutan makanan dari endosperm atau kotiledon ke titik tumbuh, dimana akan terbentuk protoplasma baru.
·      Suhu
Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5 sd 35°C (Sutopo, 2002). Suhu juga mempengaruhi kecepatan proses permulaan perkecambahan dan ditentukan oleh berbagai sifat lain yaitu sifat dormansi benih, cahaya dan zat tumbuh gibberallin.
·      Oksigen
Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan benih (Sutopo, 2002). Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju respirasi dan dipengaruhi oleh suhu, mikro-organisme yang terdapat dalam benih (Kuswanto. 1996). Menurut Kamil (1979) umumnya benih akan berkecambah dalam udara yang mengandung 29 persen oksigen dan 0.03 persen CO2. Namun untuk benih yang dorman, perkecambahannya akan terjadi jika oksigen yang masuk ke dalam benih ditingkatkan sampai 80 persen, karena biasanya oksigen yang masuk ke embrio kurang dari 3 persen.
·      Cahaya
Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya berfariasi tergantung pada jenis tanaman (Sutopo, 2002). Adapun besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran (Kamil, 1979).
Brison dalam Sutopo (2002) pengaruh cahaya terhadap perkecambahan benih dapat dibagi atas 4 golongan yaitu golongan yang memerlukan cahaya mutlak, golongan yang memerlukan cahaya untuk mempercepat perkecambahan, golongan dimana cahaya dapat menghambat perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat berkecambah baik pada tempat gelap maupun ada cahaya.
·      Medium
Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan (Sutopo, 2002). Pengujian viabilitas benih dapat digunakan media antara lain substrat kertas, pasir dan tanah. Banyak media tanam yang bisa dipilih untuk tanaman kita. Meskipun begitu, sebagian besar kegiatan pertanian dan pertamanan sampai saat ini masih bergantung kepada tanah. Mahluk-mahluk hidup di dalam tanah membantu memecah materi sisa tumbuhan dan bangkai hewan menjadi zat hara, yang kemudian diserap oleh akar tumbuhan.
Dalam media tanam / tumbuh, tanah memiliki peran yang penting di bidang pertanian maupun perkebunan. Sebelumnya, dijelaskan terlebih dahulu, sifat fisik tanah dan apa saja yang terkandung dalam tanah sehingga menyebabkan tanah sering dipakai sebagai media tanam:
1.    Warna tanah
Warna adalah petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Biasanya perbedaan warna permukaan tanah disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin gelap warna semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah dilapisan bawah yang kandungan bahan organik rendah lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Didaerah yang mempunyai sistem darinase (serapan air) buruk, warna tanahnya abu-abu karena ion besi yang terdapat didalam tanah berbentuk Fe 2+
2.    Tekstur tanah
Komponen mineral dalam tanah terdiri dari campuran partikel-partikel yang secara individu berbeda ukurannya. Menurut ukuran partikelnya, komponen mineral dalam tanah dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
a.    Pasir, berukuran 50 mikron – 2 mm
b.    Debu, berukuran 2-50 mikron
c.    Liat, berukuran dibawah 2 mikron
Tanah bertekstur pasir sangat mudah diolah, tanah jenis ini memiliki aerasi (ketersediaan rongga udara) dan drainase yang baik, namun memiliki luas permukaan kumulatif yang relatif kecil, sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah atau tanahnya lebih cepat kering.
Tekstur tanah sangat berpengaruh pada proses pemupukan, terutama jika pupuk diberikan lewat tanah, pemupukan pada tanah bertekstur pasir tentunya berbeda dengan tanah bertekstur lempung atau liat, tanah bertekstur pasir memerlukan pupuk lebih besar karena unsur hara yang tersedia pada tanah berpasir lebih rendah. Disamping itu aplikasi pemupukan juga berbeda karena pada tanah berpasir pupuk tidak bisa diberikan sekaligus karena akan segera hilang terbawa air atau menguap. Sedangkan, kapas memiliki struktur kapas yang lembut, dan juga memiliki daya serap air yang rendah. Sehingga, media tanam dengan kapas dapat terjaga kelembabannya, dan juga memiliki persediaan air dalam jangka waktu yang lama.
C.   Media Tanam
Media tanam merupakan media tumbuh bagi tanaman yang dapat memasok sebagian unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Media tanam atau media tumbuh merupakan salah satu unsur penting dalam menunjang pertumbuhan tanaman secara baik. Sebagian besar unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman dipasok melalui media tanaman. Selanjutnya diserap oleh perakaran dan digunakan untuk proses fisiologis tanaman.
a.      Media Tanam Tanah
Tanah merupakan campuran bahan padat (organik dan anorganik), dan udara. Ketiga fase ini saling mempengaruhi satu sama lain. Misalnya reaksi-reaksi bahan padat berpengaruh terhadap kualitas udara dan air, berpengaruh terhadap pelapukan bahan, reaksi-reaksi dari jasad renik, dan sebagainya.
Tanah sebagai salah satu faktor produksi pertanian terpenting harus dikelola dengan tepat dan benar agar tidak mengalami kerusakan. Kerusakan pada tanah terutama disebabkan oleh erosi. Erosi mengakibatkan kehilangan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dan bahan organik, memburuknya sifat-sifat fisik tanah yang pada akhirnya mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan rendahnya produksi, karena telah menurunkan produktivitas.
Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah tidak hanya menyediakan unsur hara bagi tanaman, tetapi juga dapat memperbaharui sifat fisik tanah. Bahan organik berperan sangat penting di dalam menciptakan struktur tanah yang ideal bagi pertumbuhan tanaman, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, meningkatkan kapasitas infiltrasi, dan stabilitas agregat tanah dan pada akhirnya akan menurunkan aliran permukaan dan erosi.
Media tanam dapat didefinisikan sebagai kumpulan bahan atau substrat tempat tumbuh benih yang disebarkan atau ditanam. Mengingat proses perkecambahan benih tanaman merupakan titik awal yang sangat menentukan bagi keberhasilan suatu pembibitan, maka perlu diperhatikan masalah pemilihan dan formulasi media semainya. Media yang baik untuk perakaran tanaman harus mudah untuk dilalui oleh air, menyediakan unsur hara yang diperlukan sejumlah tanaman, dan dapat mempertahankan kelembaban. Selain itu media perakaran yang berfungsi memegang tanaman pada tempatnya selama pertumbuhan akar, harus cukup sarang, agar aliran udara baik, mempunyai daya menahan air tinggi, mudah dilalui oleh air, bebas hama dan penyakit, serta tidak mengandung zat yang meracuni tanaman.
Pertumbuhan tanaman tidak hanya tergantung pada persediaan unsur hara  yang cukup dan seimbang tetapi juga harus ditunjang oleh keadaan fisik tanah yang baik. Sifat fisik tanah berpengaruh langsung terhadap mintakat vperakaran, air dan udara tanah, yang kemudian mempengaruhi aspek-aspek biologi dan kimia tanah. Pentingnya sifat fisik tanah dalam menunjang pertumbuhan tanaman sering tidak disadari karena kesuburan tanah dititikberatkan pada segi kesuburan kimianya.
Disamping memberikan dukungan secara fisik pada tanaman, tanah merupakan sumber mineral dan air bagi tanaman. Kondisi tanah dan mineral  dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Lingkungan atmosfer harus tersedia pada kedalaman yang cukup dalam tanah sehingga akar tanaman dapat memperoleh oksigen yang dibutuhkan untuk respirasi secara langsung dari udara.
b.         Media Tanam Tanah Bakar
Tanah bakar merupakan tanah yang bercampur dengan hasil pembakaran sisa-sisa sampah organik maupun non- organik. Sebagian besar masyarakat menggunakan tanah bakar sebagai media tanam yang digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman.

c.      Media Tanam Tanah Pupuk Kandang
Sebagai penggemar bercocok tanam tentunya kita sudah mengerti manfaat pupuk bagi tanaman yang kita tanam yaitu sebagai sumber nutrisi agar tanaman tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah dengan maksimal.
Pupuk kandang salah satu pupuk dasar untuk bercocok tanam yang Secara umum dapat disebutkan bahwa setiap ton pupuk kandang mengandung 2Kg N, 3 Kg P2O5 dari 5 Kg K2O serta unsur – unsur hara esensial lain dalam jumlah yang relative kecil (Knuti, Korpi dan Hide, 1970).
Sifat- sifat pupuk kandang :
·                Kotoran ayam mengandung N tiga kali lebih besar dari pada pupuk kandang yang lain.
·                Kotoran kambing mengandung N dan K masing masing dua kali lebih besar dari pada kotoran sapi.
·                Kotoran babi mengandung P dua kali lebih banyak daripada kotoran sapi.
Pupuk kandang dari kuda atau kambing mengalami fermentasi dan menjadi panas lebih cepat dari pada pupuk kandang sapid an babi. Karena itu, petani biasanya menyebut pupuk kandang sapid an babi sebagai pupuk dingin.
Dalam semua pupuk kandang P selalu terdapat dalam kotoran padat, sedangkan sebagian besar K dan N terdapat dalam kotoran cair (urine). Kandungan K dalam urine adalah lima kali lebih banyak daripada dalam kotoran padat, sedangkan kandungan N adalah dua sampai tiga kali lebih banyak. Kandungan unsur hara dalam kotoran ayam adalah yang paling tinggi, karena bagian cair (urine) tercampur dengan bagian padat. Kandungan usur hara dalam pupuk kandang ditentukan pula oleh jenis makanan yang diberikan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.   RANCANGAN PENELITIAN
Dalam penelitihan ini metode yang digunakan adalah metode eksperimen yaitu menguji tanaman kacang hijau terhadap media tanam tanah biasa, tanah bakar , dan tanah pupuk kandang untuk mengetahui pertumbuhan yang ditandai dengan panjang tanaman tersebut dari waktu ke waktu. Penelitian ini dilaksanakan dengan kondisi perlakuan yang dibuat sama.

B.   LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada,
Alamat            : Jl. Gajah Mada Dalam, gg. Jariyah (rumah salah satu anggota)
Waktu             : Selasa, 6 September 2016

C.   POPULASI DAN SAMPEL
Populasi penelitian adalah pertumbuhan tanaman kacang hijau yang dipengaruhi oleh media tanamnya . Sample yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 15 biji kacang hijau yag di letakan pada poly bag A untuk media tanam berupa tanah ,poly bag B untuk media tanam berupa tanah bakar dan poly bab C untuk media tanam berupa tanah pupuk kandang. Poly bag yang kami gunakan tiap samplenya sama dan menggunakan biji kacang hijau yang memiliki besar dan berat yang sama.

D.   VARIABEL PENELITIAN
1.      Variabel Bebas
Variabel bebas yang di gunakan dalam penelitian ini adalah pengaruh media tanam bagi pertumbuhan tanaman kacang hijau.
2.      Variabel Control
Penelitian ini menggunakan variabel control yang berupa media tanam yaitu tanah biasa.
3.      Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitihan ini merupakan variabel yang dapat diukur yaitu pertumbuhan tanaman kacang hijau yang di tumbuhkan dalam media yang berbeda, yaitu tanah biasa, tanah bakar, dan tanah pupuk kandang.




E.   ALAT DAN BAHAN
1.    15 butir biji kacang hijau
2.    Tanah bakar secukupnya
3.    Tanah biasa secukupnya
4.    Tanah pupuk kandang secukupnya
5.    3 lembar poly bag
6.    1 buah cetok

F.    CARA KERJA :
1)    Menyiapkan alat dan bahan.
2)    Masukan tanah bakar, tanah biasa, dan tanah pupuk kandang kedalam poly bag yang sudah disiapakan menggunakan cetok secukupnya.
3)    Menanam 15 butir biji kacang hijau ke dalam 3 lembar poly bag (masing-masing 5 butir) berbeda yang telah berisikan tanah biasa, tanah bakar, dan tanah pupuk kandang.
4)    Menyiram tanaman menggunakan air bersih secukupnya setiap satu kali sehari,
5)    Mengamati dan mengukur pertumbuhan setiap tumbuahan kacang hijau pada masing – masing poly bag dan menghitung rata – rata pertumbuhan dengan mengukur panjang batang kecambah setiap hari,
6)    Mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.


G.   DEFINISI OPERASIONAL
·           Poly bag A : media tanam tanah biasa
·           Poly bag B : media tanam tanah bakar
·           Poly bag C : media tanam tanah pupuk kandang


H.   HASIL PENGAMATAN

TABEL 1.  TANAMAN KACANG HIJAU DI TANAH BIASA
Tinggi batang tanaman kacang hijau
Hari ke (cm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
-
-
*
6
10
10,5
12,2
13,7
14,5
2
-
-
*
5,1
9
9
9,3
10,2
11,5
3
-
-
*
4,3
8,5
8,6
10,4
11,1
12,8
4
-
-
-
-
*
2
3,5
4
5,2
5
-
-
*
3
6
6,5
7
8,4
10,2
Rata-rata
-
-
-
3,68
6.7
7,32
8,48
9,48
10,84
Keterangan : (*) mulai berkecambah

TABEL 2. TANAMAN KACANG HIJAU DI TANAH BAKAR
Tinggi batang tanaman kacang hijau
Hari ke (cm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
-
-
-
-
-
-
-
-
*
2
-
-
-
-
-
-
-
-
*
3
-
-
-
-
-
-
-
-
*
4
-
-
-
-
-
-
-
-
*
5
-
-
-
-
-
-
-
-
*
Rata-rata
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Keterangan : (*) mulai berkecambah

TABEL 3. TANAMAN KACANG JIHAU DI TANAH PUPUK KANDANG
Tinggi batang tanaman kacang hijau
Hari ke (cm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
-
-
*
4,5
10
10,1
10,5
  11,3 
 12
2
-
-
*
3,3
11
12
12,5
 12,9
 13,4
3
-
-
*
3,8
10
10,2
10,5
 11,8
 13
4
-
-
-
*
3
3,5
6
  7
 7,5
5
-
-
*
4
5
7,8
8,5
8,5
 8,6
Rata-rata
-
-
-
3,12
7,8
8,78
9,6
10,3
10,9
Keterangan : (*) mulai berkecambah

Pembahasan                 :
Berdasarkan hasil penelitian, pada tanah biasa biji kacang hijau nomor 1,2,3 dan 5 mulai berkecambah pada hari ke-3 dan biji kacang nomor 4 mulai berkecambah pada hari ke-5. Saat itu terlihat kuncup batang mulai terlihat di atas permukaan biji kacang hijau. Sedangkan daun pertama muncul pada biji kacang hijau nomor 1,2,3, dan 5 pada hari ke-4 dan biji kacang nomor 4 muncul pada hari ke-6 sebanyak 2 helai. Pada tanah bakar, biji kacang hijau mulai berkecambah pada hari ke-9 setelah penanaman. Pada tanah pupuk kandang biji kacang hijau nomor 1,2, 3 dan 5 mulai berkecambah pada hari ke-3 dan biji kacang hijau nomor 4 mulai berkecambah pada hari ke-4 setelah penanaman. Daun pertama biji kacang hijau nomor 1,2,3 dan 5 mulai tumbuh pada hari ke-4 sebanyak 2 helai, sedangkan biji kacang hijau nomor 4 tumbuh pada hari ke-5.
Kondisi tanaman kacang hijau pada media tanam tanah biasa batangnya tidak lurus, berwarna hijau muda dan daunnya lebar-lebar berwarna hijau tua, sedangkan pada media tanah pupuk kandang batangnya lurus berwarna hijau muda dan tinggi, daunnya lebar-lebar berwarna hijau tua. Pada media tanam  tanah bakar, batang dan daunnya belum muncul (baru mulai berkecambah).
Media tanam dapat berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan biji Kacang Hijau, pernyataan ini di nyatakan benar karena terlihat jelas pada tabel pengamatan bahwa kecepatan perkecambahan kacang hijau berbeda-beda tergantung media tanamnya. Tanaman kacang hijau lebih cepat tumbuh dan berkembang pada medium tanah Pupuk kandang, sedangkan pada media tanam tanah bakar pertumbuhan kacang hijau sangat lambat, hal ini dapat dilihat dari tabel hasil pengamatan.

I.       KETERBATASAN PENELITIAN
Pada saat penanaman, biji kacang hijau dalam keadaan tidak direndam  dengan air.

















DAFTAR PUSTAKA

1 komentar:

  1. RNG gambling - DRMCD
    RNG gambling, or slot machine gambling, is a form of gambling that 과천 출장안마 is legal, 남원 출장샵 regulated 인천광역 출장안마 and encouraged. 이천 출장안마 It is one of the most popular casino 경상북도 출장안마 games

    BalasHapus