KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, kami
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulisnya yang berjudul “Pengaruh Media
Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau” yang disusun guna memenuhi
tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran Biologi. Yang kedua kalinya
shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada beliau junjunag kita nabi
besar Muhammad SAW, yang mana dengan adanya beliau kita terbebas dari zaman
yang gelap gulita menuju zaman yang terang benderang yaitu agama islam.
Semoga karya tulis ini bermanfaat
bagi semua pihak yang memerlukan. Dalam penyusunan karya tulis percobaan ini,
kami menyadari pengetahuan dan pengalaman kami masih sangat terbatas. Oleh
karena itu, kritik dan saran untuk penyempurnaan karya tulis ini sangat kami
harapkan.
Ketapang, 16 September 2016
Penulis
DAFTAR ISI
·
HALAMAN JUDUL...............................................................................................
·
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………..
·
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….
·
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………………….…..
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………....
C. Tujuan Penelitian……………………………………………………………......
D. Manfaat Penelitian.......................................................................................
·
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Tanaman Kacang Hijau………………………………………………………....
B. Teori…………………………………………………………………………........
C. Media Tanam……………………………………………………………............
·
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian………………………………………………………......
B. Lokasi
Penelitian..........................................................................................
C. Populasi dan
Sampel...................................................................................
D. Variabel Penelitihan……………………………………………………….........
E. Alat dan Bahan………………………………………………………………......
F. Cara Kerja……………………………………………………………………......
G. Definisi
Operasional.....................................................................................
H. Hasil
Pengamatan.......................................................................................
I. Keterbatasan Penelitian...............................................................................
·
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
·
Lampiran-lampiran...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan
adalah proses fisiologis yang ditandai dengan bertambahnya jumlah sel dan
bertambahnya volume sel yang bersifat irreversible (tidak dapat mengecil
kembali). Sedangkan, perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan
yang tidak dapat diukur. Pertumbuhan dalam suatu perkecambahan biji dapat
langsung diukur apabila tunasnya sudah keluar dan tumbuh. Sama halnya dengan
pertumbuhan, perkembangan juga dapat dilihat dari tunas/awal, hanya saja tidak
diukur melainkan melihat apa saja struktur tubuh kecambah yang mulai ada dari
awal/tunas. Seperti pada awalnya, berkembang batang, akar, dan sebagainya. Pada
tumbuhan ber sel 1 terjadi penambahan besar sel, sedangkan pada tumbuhan
multiselluler terjadi pembesaran sel maupun penambahan ukuran sel. Pada proses
perkecambahan, ada 2 tipe perkecambahan; Epigeal (Perkecambahan dimana
kotiledon berada di atas tanah) dan Hipogeal (Kotiledon tetap berada di dalam
tanah). Perkembangan adalah proses pada tubuh untuk mencapai kedewasaan atau
maturitas. Matuaritas tidak dapat diukur secara kuantitatif namun bisa dilihat
dari ciri-cirinya.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan ada 2, yaitu
Faktor Eksternal dan Faktor internal. Faktor Eksternal adalah faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari luar, meliputi: nutrisi, suhu,
cahaya, air, kelembaban, oksigen, dll. Faktor Internal adalah faktor dari
dalam, meliputi: gen dan hormon.
Media tanam
merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang
didalamnya. Contohnya seperti tanah, air, kapas, kompos, dan sejenis lainnya.
Saat ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan, tanah selalu menjadi
media tanam bagi benih yang akan ditanam. Didalam kegiatan penelitian, disini
kita memakai media tanah bakar, tanah biasa, dan tanah pupuk kandang untuk
mengetahui pertumbuhan yang terjadi pada tanaman. Sedangkan, media tanam yang
menggunakan air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan hidroponik.
Dalam hal ini,
dapat terlihat bahwa kegunaan antara berbagai media tanam itu berbeda-beda.
Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan suatu
biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung
unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda. Hal yang demikian itu menjadi latar
belakang penelitian ini dilakukan pada biji kacang hijau sehingga dapat
dimengerti apa pengaruh media tanam terhadap perkecambahan biji tersebut.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka timbul masalah sebagai berikut :
1. Apakah jenis tanah yang dijadikan sebagai media tanam
dapat berpengaruh pada pertumbuhan biji kacang hijau ?
2. Bagaimanakah perbedaan pertumbuhan kacang hijau yang
menggunakan berbagai jenis tanah sebagai media tanam yaitu tanah biasa, tanah
bakar, dan tanah pupuk ?
3. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi pertumbuhan
kacang hijau yang di tanam di 3 jenis tanah sebagai media tanam ?
C.
TUJUAN
Tujuan
dilakukannya penelitian ini yaitu sebagai berikut :
·
mengetahui pengaruh
bermacam-macam media tanam terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau.
·
mengatahui pada
medium apakah tanaman kacang hijau dapat tumbuh dengan maksimal dan tidak dapat
tumbuh dengan maksimal.
D. MANFAAT
Manfaat yang dapat kita peroleh dari penelitian yang
dilakukan yaitu sebagai berikut :
·
Bagi siswa, dengan
adanya praktikum ini siswa mendapatkan pengetahuan tentang pengaruh jenis tanah
dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman kacang hijau.
·
Bagi guru, melalui
peaktikum ini guru dapat mengetahui tingkat
pemahaman siswa yang akan melakukan uji praktikum dalam hal ini mengenai
pertumbuhan biji kacang hijau.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TANAMAN KACANG
HIJAU
1. Klasifikasi Ilmiah
|
·
Kingdom
|
|
|
·
Subkingdom
|
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
|
|
·
Super Divisi
|
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
|
|
·
Divisi
|
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
|
|
·
Kelas
|
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
|
|
·
Sub Kelas
|
Rosidae
|
|
·
Ordo
|
|
|
·
Famili
|
Fabaceae (suku polong-polongan)
|
|
·
Genus
|
Phaseolus
|
|
·
Spesies
|
Phaseolus
radiatus L.
|
Kacang hijau adalah
sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah
tropika. Tumbuhan yang temasuk suku polong-polongan (fabaceae) ini memiliki
banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan protein
nabati tinggi. Kacang
hijau di Indonesia menempati
urutan ketiga terpenting sebagai sumber tanaman pangan legume, setelah hijau
dan kacang tanah. Kacang
hijau juga sangat mudah berkecambah, kecambah kacang hijau
biasa kita kenal dengan tauge. Kacang
hijau dalam bentuk kecambah
mengandung enzim-enzim aktif salah satunya amilase yang membantu dalam
metabolisme karbohidrat. Selain rasanya yang gurih dan lezat, kacang hijau dan
kecambahnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
B.
TEORI
1. Perkecambahan
Menurut para
pendapat tokoh, perkecambahan biji merupakan bentuk awal embrio yang berkembang
menjadi sesuatu yang baru yaitu tanaman anakan yang sempurna menurut Baker,
1950. Sedangkan, menurut Kramer dan Kozlowski, 1979, perkecambahan biji adalah
proses tumbuhnya embrio atau keluarnya redicle dan plumulae dari kulit biji.
Dalam
perkecambahan, biji selalu mengalami pertumbuhan dan mengalami perkembangan.
Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume karena adanya penambahan substansi
(bahan dasar) yang bersifat irreversibel (tidak dapat kembali). Sedangkan,
perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan yang tidak dapat
diukur. Pertumbuhan dalam suatu perkecambahan biji dapat langsung diukur
apabila tunasnya sudah keluar dan tumbuh. Sama halnya dengan pertumbuhan,
perkembangan juga dapat dilihat dari tunas/awal, hanya saja tidak diukur
melainkan melihat apa saja struktur tubuh kecambah yang mulai ada dari
awal/tunas. Seperti pada awalnya, berkembang batang, akar, dan sebagainya.
Pertumbuhan dan perkembangan suatu kecambah biji akan selalu berbeda-beda
tergantung media tanam yang dipakai dan unsur-unsur yang terdapat dalam media
tanam tersebut.
Media tanam
merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang
didalamnya. Contohnya seperti tanah, sekam, kapas, dan sejenis lainnya. Saat
ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan, tanah selalu menjadi media
tanam bagi benih yang akan ditanam. Tapi, dalam kegiatan penelitian,
siswa-siswi selalu memakai kapas untuk perkecambahan biji mereka. Sedangkan,
media tanam yang menggunakan air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan
hidroponik.
Dalam hal ini,
dapat terlihat bahwa kegunaan antara berbagai media tanam itu berbeda-beda.
Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan suatu
biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung
unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda. Hal yang demikian itu menjadi latar
belakang penelitian ini dilakukan pada biji jagung, kacang tanah dan kacang
merah, sehingga dapat dimengerti apa pengaruh media tanam terhadap
perkecambahan biji tersebut.
Perkecambahan
diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara,
maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji
yang disebut tahap imbibisi (berarti “minum”). Biji menyerap air dari
lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau
uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio
membesar) dan biji melunak. Proses ini murni fisik.
Kehadiran air di
dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam
absisat menurun kadarnya, sementara giberelin meningkat. Berdasarkan kajian
ekspresi gen pada tumbuhan model Arabidopsis thaliana diketahui bahwa pada
perkecambahan lokus-lokus yang mengatur pemasakan embrio, sepertiabscisic acid insensitive 3 ,fusca 3 dan leafy cotyledon 1 menurun
perannya dan sebaliknya lokus-lokus yang mendorong perkecambahan meningkat
perannya (upregulated), seperti gibberelic acid 1 gai, era1, pkl, spy,
dan sly. Diketahui pula bahwa dalam proses
perkecambahan yang normal sekelompok faktor transkripsi yang mengatur auksin
(disebut Auxin Response Factors, ARFs) diredam oleh miRNA.
Perubahan
pengendalian ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan
mitosis, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin
besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya
pecah.
2. Tipe Perkecambahan
a. Hipogeal
Pada tipe ini
memperlihatkan terjadinya pertumbuhan memanjang dari epikotil sehingga
menyebabkan plumula keluar dan menembus pada kulit bijinya yang nantinya akan
muncul di atas tanah, sedangkan kotiledonnya masih tetap berada di dalam tanah.
Contoh perkecambahan ini terjadi pada kacang kapri.
b.
Epigeal
Pada tipe in
hipokotil tumbuh memanjang yang mengakibatkan kotiledon dan plumula sampai
keluar ke permukaan tanah, sehingga kotiledon terdapat di atas tanah.
3. Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan
a. Faktor Dalam
Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan
benih antara lain :
· Tingkat kemasakan benih
Benih yang dipanen sebelum tingkat
kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena
belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum
sempurna (Sutopo, 2002). Pada umumnya sewaktu kadar air biji menurun dengan
cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut juga telah mencapai masak
fisiologos atau masak fungsional dan pada saat itu benih mencapat berat kering
maksimum, daya tumbuh maksimum atau dengan kata lain benih mempunyai mutu
tertinggi (Kamil, 1979).
· Ukuran benih
Benih yang berukuran besar dan berat
mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil
pada jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan
digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan (Sutopo,
2002). Berat benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi
karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat
tanaman pada saat dipanen (Blackman, dalam Sutopo, 2002).
· Dormansi
Benih dikatakan dormansi apabila benih
tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada
keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu
perkecambahan atau juga dapat dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu
keadaan dimana benih-benih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada
dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban
yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai (Lambers 1992, Schmidt 2002).
· Penghambat perkecambahan
Menurut Kuswanto
(1996), penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik
dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotik yang
tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju
respirasi.
b. Faktor Luar
Faktor luar utama yang mempengaruhi perkecambahan diantaranya :
· Air
Penyerapan air
oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya
dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air
yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat
pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo, 2002). Perkembangan benih
tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80
sampai 90 persen (Darjadi,1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar
30 sampai 55 persen (Kamil, 1979).
Menurut Kamil
(1979), kira-kira 70 persen berat protoplasma sel hidup terdiri dari air dan
fungsi air antara lain:
a. Untuk melembabkan kulit biji sehingga menjadi pecah
atau robek agar terjadi pengembangan embrio dan endosperm.
b. Untuk memberikan fasilitas masuknya oksigen kedalam
biji.
c. Untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat
mengaktifkan berbagai fungsinya.
d. Sebagai alat transport larutan makanan dari endosperm atau
kotiledon ke titik tumbuh, dimana akan terbentuk protoplasma baru.
· Suhu
Suhu optimal
adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana
presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara
26.5 sd 35°C (Sutopo, 2002). Suhu juga mempengaruhi kecepatan proses permulaan
perkecambahan dan ditentukan oleh berbagai sifat lain yaitu sifat dormansi
benih, cahaya dan zat tumbuh gibberallin.
· Oksigen
Saat
berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan
meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas.
Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan
benih (Sutopo, 2002). Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju respirasi dan
dipengaruhi oleh suhu, mikro-organisme yang terdapat dalam benih (Kuswanto.
1996). Menurut Kamil (1979) umumnya benih akan berkecambah dalam udara yang
mengandung 29 persen oksigen dan 0.03 persen CO2. Namun untuk benih yang
dorman, perkecambahannya akan terjadi jika oksigen yang masuk ke dalam benih
ditingkatkan sampai 80 persen, karena biasanya oksigen yang masuk ke embrio
kurang dari 3 persen.
· Cahaya
Kebutuhan benih
akan cahaya untuk perkecambahannya berfariasi tergantung pada jenis tanaman
(Sutopo, 2002). Adapun besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung
pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran (Kamil, 1979).
Brison dalam
Sutopo (2002) pengaruh cahaya terhadap perkecambahan benih dapat dibagi atas 4
golongan yaitu golongan yang memerlukan cahaya mutlak, golongan yang memerlukan
cahaya untuk mempercepat perkecambahan, golongan dimana cahaya dapat menghambat
perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat berkecambah baik pada tempat
gelap maupun ada cahaya.
· Medium
Medium yang baik
untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai
kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama
cendawan (Sutopo, 2002). Pengujian viabilitas benih dapat digunakan media
antara lain substrat kertas, pasir dan tanah. Banyak media tanam yang bisa
dipilih untuk tanaman kita. Meskipun begitu, sebagian besar kegiatan pertanian
dan pertamanan sampai saat ini masih bergantung kepada tanah. Mahluk-mahluk
hidup di dalam tanah membantu memecah materi sisa tumbuhan dan bangkai hewan
menjadi zat hara, yang kemudian diserap oleh akar tumbuhan.
Dalam media
tanam / tumbuh, tanah memiliki peran yang penting di bidang pertanian maupun
perkebunan. Sebelumnya, dijelaskan terlebih dahulu, sifat fisik tanah dan apa
saja yang terkandung dalam tanah sehingga menyebabkan tanah sering dipakai
sebagai media tanam:
1. Warna tanah
Warna adalah
petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Biasanya perbedaan warna permukaan tanah
disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin gelap warna semakin
tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah dilapisan bawah yang kandungan
bahan organik rendah lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan bentuk
senyawa besi (Fe). Didaerah yang mempunyai sistem darinase (serapan air) buruk,
warna tanahnya abu-abu karena ion besi yang terdapat didalam tanah berbentuk Fe
2+
2. Tekstur tanah
Komponen mineral
dalam tanah terdiri dari campuran partikel-partikel yang secara individu
berbeda ukurannya. Menurut ukuran partikelnya, komponen mineral dalam tanah
dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
a. Pasir, berukuran 50 mikron – 2 mm
b. Debu, berukuran 2-50 mikron
c. Liat, berukuran dibawah 2 mikron
Tanah bertekstur
pasir sangat mudah diolah, tanah jenis ini memiliki aerasi (ketersediaan rongga
udara) dan drainase yang baik, namun memiliki luas permukaan kumulatif yang
relatif kecil, sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah atau tanahnya
lebih cepat kering.
Tekstur tanah
sangat berpengaruh pada proses pemupukan, terutama jika pupuk diberikan lewat
tanah, pemupukan pada tanah bertekstur pasir tentunya berbeda dengan tanah
bertekstur lempung atau liat, tanah bertekstur pasir memerlukan pupuk lebih
besar karena unsur hara yang tersedia pada tanah berpasir lebih rendah.
Disamping itu aplikasi pemupukan juga berbeda karena pada tanah berpasir pupuk
tidak bisa diberikan sekaligus karena akan segera hilang terbawa air atau
menguap. Sedangkan, kapas memiliki struktur kapas yang lembut, dan juga
memiliki daya serap air yang rendah. Sehingga, media tanam dengan kapas dapat
terjaga kelembabannya, dan juga memiliki persediaan air dalam jangka waktu yang
lama.
C.
Media Tanam
Media tanam
merupakan media tumbuh bagi tanaman yang dapat memasok sebagian unsur-unsur
hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Media tanam atau media tumbuh merupakan
salah satu unsur penting dalam menunjang pertumbuhan tanaman secara baik.
Sebagian besar unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman dipasok melalui media
tanaman. Selanjutnya diserap oleh perakaran dan digunakan untuk proses
fisiologis tanaman.
a. Media Tanam Tanah
Tanah merupakan
campuran bahan padat (organik dan anorganik), dan udara. Ketiga fase ini saling
mempengaruhi satu sama lain. Misalnya reaksi-reaksi bahan padat berpengaruh
terhadap kualitas udara dan air, berpengaruh terhadap pelapukan bahan, reaksi-reaksi
dari jasad renik, dan sebagainya.
Tanah sebagai
salah satu faktor produksi pertanian terpenting harus dikelola dengan tepat dan
benar agar tidak mengalami kerusakan. Kerusakan pada tanah terutama disebabkan
oleh erosi. Erosi mengakibatkan kehilangan unsur hara yang diperlukan oleh
tanaman dan bahan organik, memburuknya sifat-sifat fisik tanah yang pada
akhirnya mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan rendahnya produksi,
karena telah menurunkan produktivitas.
Bahan organik
yang ditambahkan ke dalam tanah tidak hanya menyediakan unsur hara bagi
tanaman, tetapi juga dapat memperbaharui sifat fisik tanah. Bahan organik
berperan sangat penting di dalam menciptakan struktur tanah yang ideal bagi
pertumbuhan tanaman, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, meningkatkan
kapasitas infiltrasi, dan stabilitas agregat tanah dan pada akhirnya akan
menurunkan aliran permukaan dan erosi.
Media tanam
dapat didefinisikan sebagai kumpulan bahan atau substrat tempat tumbuh benih
yang disebarkan atau ditanam. Mengingat proses perkecambahan benih tanaman
merupakan titik awal yang sangat menentukan bagi keberhasilan suatu pembibitan,
maka perlu diperhatikan masalah pemilihan dan formulasi media semainya. Media
yang baik untuk perakaran tanaman harus mudah untuk dilalui oleh air,
menyediakan unsur hara yang diperlukan sejumlah tanaman, dan dapat
mempertahankan kelembaban. Selain itu media perakaran yang berfungsi memegang
tanaman pada tempatnya selama pertumbuhan akar, harus cukup sarang, agar aliran
udara baik, mempunyai daya menahan air tinggi, mudah dilalui oleh air, bebas
hama dan penyakit, serta tidak mengandung zat yang meracuni tanaman.
Pertumbuhan
tanaman tidak hanya tergantung pada persediaan unsur hara yang cukup dan
seimbang tetapi juga harus ditunjang oleh keadaan fisik tanah yang baik. Sifat
fisik tanah berpengaruh langsung terhadap mintakat vperakaran, air dan udara
tanah, yang kemudian mempengaruhi aspek-aspek biologi dan kimia tanah.
Pentingnya sifat fisik tanah dalam menunjang pertumbuhan tanaman sering tidak
disadari karena kesuburan tanah dititikberatkan pada segi kesuburan kimianya.
Disamping
memberikan dukungan secara fisik pada tanaman, tanah merupakan sumber mineral
dan air bagi tanaman. Kondisi tanah dan mineral dapat mempengaruhi pertumbuhan
tanaman. Lingkungan atmosfer harus tersedia pada kedalaman yang cukup dalam
tanah sehingga akar tanaman dapat memperoleh oksigen yang dibutuhkan untuk
respirasi secara langsung dari udara.
b.
Media Tanam Tanah
Bakar
Tanah bakar merupakan tanah yang bercampur dengan
hasil pembakaran sisa-sisa sampah organik maupun non- organik. Sebagian besar
masyarakat menggunakan tanah bakar sebagai media tanam yang digunakan untuk
menanam berbagai jenis tanaman.
c. Media Tanam Tanah Pupuk Kandang
Sebagai penggemar bercocok tanam tentunya kita sudah
mengerti manfaat pupuk bagi tanaman yang kita tanam yaitu sebagai sumber
nutrisi agar tanaman tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah dengan maksimal.
Pupuk kandang salah satu pupuk dasar untuk bercocok
tanam yang Secara umum dapat disebutkan bahwa setiap ton pupuk kandang
mengandung 2Kg N, 3 Kg P2O5 dari 5 Kg K2O serta unsur – unsur hara esensial
lain dalam jumlah yang relative kecil (Knuti, Korpi dan Hide, 1970).
Sifat- sifat pupuk kandang :
·
Kotoran ayam
mengandung N tiga kali lebih besar dari pada pupuk kandang yang lain.
·
Kotoran kambing
mengandung N dan K masing masing dua kali lebih besar dari pada kotoran sapi.
·
Kotoran babi
mengandung P dua kali lebih banyak daripada kotoran sapi.
Pupuk kandang dari kuda atau kambing mengalami
fermentasi dan menjadi panas lebih cepat dari pada pupuk kandang sapid an babi.
Karena itu, petani biasanya menyebut pupuk kandang sapid an babi sebagai pupuk
dingin.
Dalam semua pupuk kandang P selalu terdapat dalam
kotoran padat, sedangkan sebagian besar K dan N terdapat dalam kotoran cair
(urine). Kandungan K dalam urine adalah lima kali lebih banyak daripada dalam
kotoran padat, sedangkan kandungan N adalah dua sampai tiga kali lebih banyak.
Kandungan unsur hara dalam kotoran ayam adalah yang paling tinggi, karena
bagian cair (urine) tercampur dengan bagian padat. Kandungan usur hara dalam
pupuk kandang ditentukan pula oleh jenis makanan yang diberikan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
RANCANGAN PENELITIAN
Dalam
penelitihan ini metode yang digunakan adalah metode eksperimen yaitu menguji
tanaman kacang hijau terhadap media tanam tanah biasa, tanah bakar , dan tanah
pupuk kandang untuk mengetahui pertumbuhan yang ditandai dengan panjang tanaman
tersebut dari waktu ke waktu. Penelitian ini dilaksanakan dengan kondisi
perlakuan yang dibuat sama.
B.
LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada,
Alamat : Jl. Gajah Mada Dalam, gg. Jariyah (rumah salah satu
anggota)
Waktu : Selasa, 6 September 2016
C.
POPULASI DAN SAMPEL
Populasi
penelitian adalah pertumbuhan tanaman kacang hijau yang dipengaruhi oleh media
tanamnya . Sample yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 15 biji kacang
hijau yag di letakan pada poly bag A untuk media tanam berupa tanah ,poly bag B
untuk media tanam berupa tanah bakar dan poly bab C untuk media tanam berupa
tanah pupuk kandang. Poly bag yang kami gunakan tiap samplenya sama dan
menggunakan biji kacang hijau yang memiliki besar dan berat yang sama.
D.
VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel Bebas
Variabel bebas yang di gunakan dalam penelitian ini adalah pengaruh media
tanam bagi pertumbuhan tanaman kacang hijau.
2. Variabel Control
Penelitian ini menggunakan variabel control yang berupa media tanam yaitu
tanah biasa.
3. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitihan ini merupakan variabel yang dapat diukur
yaitu pertumbuhan tanaman kacang hijau yang di tumbuhkan dalam media yang
berbeda, yaitu tanah biasa, tanah bakar, dan tanah pupuk kandang.
E.
ALAT DAN BAHAN
1. 15 butir biji kacang hijau
2. Tanah bakar secukupnya
3. Tanah biasa secukupnya
4. Tanah pupuk kandang secukupnya
5. 3 lembar poly bag
6. 1 buah cetok
F.
CARA KERJA :
1) Menyiapkan alat dan bahan.
2) Masukan tanah bakar, tanah biasa, dan tanah pupuk
kandang kedalam poly bag yang sudah disiapakan menggunakan cetok secukupnya.
3) Menanam 15 butir biji kacang hijau ke dalam 3 lembar
poly bag (masing-masing 5 butir) berbeda yang telah berisikan tanah biasa,
tanah bakar, dan tanah pupuk kandang.
4) Menyiram tanaman menggunakan air bersih secukupnya
setiap satu kali sehari,
5) Mengamati dan mengukur pertumbuhan setiap tumbuahan
kacang hijau pada masing – masing poly bag dan menghitung rata – rata
pertumbuhan dengan mengukur panjang batang kecambah setiap hari,
6) Mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.
G.
DEFINISI OPERASIONAL
·
Poly bag A : media
tanam tanah biasa
·
Poly bag B : media
tanam tanah bakar
·
Poly bag C : media
tanam tanah pupuk kandang
H.
HASIL
PENGAMATAN
TABEL
1. TANAMAN KACANG HIJAU DI TANAH BIASA
|
Tinggi batang tanaman kacang hijau
|
Hari ke (cm)
|
||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
|
1
|
-
|
-
|
*
|
6
|
10
|
10,5
|
12,2
|
13,7
|
14,5
|
|
2
|
-
|
-
|
*
|
5,1
|
9
|
9
|
9,3
|
10,2
|
11,5
|
|
3
|
-
|
-
|
*
|
4,3
|
8,5
|
8,6
|
10,4
|
11,1
|
12,8
|
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
*
|
2
|
3,5
|
4
|
5,2
|
|
5
|
-
|
-
|
*
|
3
|
6
|
6,5
|
7
|
8,4
|
10,2
|
|
Rata-rata
|
-
|
-
|
-
|
3,68
|
6.7
|
7,32
|
8,48
|
9,48
|
10,84
|
Keterangan
: (*) mulai berkecambah
TABEL
2. TANAMAN KACANG HIJAU DI TANAH BAKAR
|
Tinggi batang tanaman kacang hijau
|
Hari ke (cm)
|
||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
*
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
*
|
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
*
|
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
*
|
|
5
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
*
|
|
Rata-rata
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Keterangan
: (*) mulai berkecambah
TABEL
3. TANAMAN KACANG JIHAU DI TANAH PUPUK KANDANG
|
Tinggi batang tanaman kacang hijau
|
Hari ke (cm)
|
||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
|
1
|
-
|
-
|
*
|
4,5
|
10
|
10,1
|
10,5
|
11,3
|
12
|
|
2
|
-
|
-
|
*
|
3,3
|
11
|
12
|
12,5
|
12,9
|
13,4
|
|
3
|
-
|
-
|
*
|
3,8
|
10
|
10,2
|
10,5
|
11,8
|
13
|
|
4
|
-
|
-
|
-
|
*
|
3
|
3,5
|
6
|
7
|
7,5
|
|
5
|
-
|
-
|
*
|
4
|
5
|
7,8
|
8,5
|
8,5
|
8,6
|
|
Rata-rata
|
-
|
-
|
-
|
3,12
|
7,8
|
8,78
|
9,6
|
10,3
|
10,9
|
Keterangan
: (*) mulai berkecambah
Pembahasan :
Berdasarkan hasil penelitian, pada tanah
biasa biji kacang hijau nomor 1,2,3 dan 5 mulai berkecambah pada hari ke-3 dan
biji kacang nomor 4 mulai berkecambah pada hari ke-5. Saat itu terlihat kuncup
batang mulai terlihat di atas permukaan biji kacang hijau. Sedangkan daun
pertama muncul pada biji kacang hijau nomor 1,2,3, dan 5 pada hari ke-4 dan
biji kacang nomor 4 muncul pada hari ke-6 sebanyak 2 helai. Pada tanah bakar,
biji kacang hijau mulai berkecambah pada hari ke-9 setelah penanaman. Pada
tanah pupuk kandang biji kacang hijau nomor 1,2, 3 dan 5 mulai berkecambah pada
hari ke-3 dan biji kacang hijau nomor 4 mulai berkecambah pada hari ke-4
setelah penanaman. Daun pertama biji kacang hijau nomor 1,2,3 dan 5 mulai
tumbuh pada hari ke-4 sebanyak 2 helai, sedangkan biji kacang hijau nomor 4
tumbuh pada hari ke-5.
Kondisi tanaman kacang hijau pada media
tanam tanah biasa batangnya tidak lurus, berwarna hijau muda dan daunnya
lebar-lebar berwarna hijau tua, sedangkan pada media tanah pupuk kandang
batangnya lurus berwarna hijau muda dan tinggi, daunnya lebar-lebar berwarna
hijau tua. Pada media tanam tanah bakar,
batang dan daunnya belum muncul (baru mulai berkecambah).
Media tanam dapat berpengaruh terhadap
kecepatan perkecambahan biji Kacang Hijau, pernyataan ini di nyatakan benar
karena terlihat jelas pada tabel pengamatan bahwa kecepatan perkecambahan
kacang hijau berbeda-beda tergantung media tanamnya. Tanaman kacang hijau lebih
cepat tumbuh dan berkembang pada medium tanah Pupuk kandang, sedangkan pada
media tanam tanah bakar pertumbuhan kacang hijau sangat lambat, hal ini dapat
dilihat dari tabel hasil pengamatan.
I. KETERBATASAN PENELITIAN
Pada saat penanaman, biji
kacang hijau dalam keadaan tidak direndam
dengan air.
DAFTAR
PUSTAKA